Minggu, 23 Februari 2014

Twin Sister

Aku bertanya pada diriku sendiri, di tengah hujan deras yang mengguyur kotaku. "Mengapa aku sangat tidak ingin bertemu dengan "Dia" ? Saudara kem barku sendiri. Lalu, aku bertanya lagi pada diriku "Mengapa aku harus memiliki saudara kembar yang lebih cantik, lebih pintar, dan lebih perfect dariku?" Sepertinya, orang-orang disekitarku sudah tidak menyayangiku lagi, sudah tidak ingin berteman denganku lagi, mereka menjauhiku, mengucilkanku, semenjak saudara kembarku datang dari Perancis.

Saat  itu, Ayahku baru saja pulang dari Perancis. Dua hari sebelum pulang, Ia memberi tahuku, bahwa beliau akan meberi kejutan yang sangat spesial. Aku bingung, tidak biasanya ayah seperti ini. Kira-kira kejutan apa yang akan ayah berikan padaku? Sebuah kalung berlian? Boneka Teddy Bear yang besar? Tiket menonton konser? Sebuah miniatur menara Eiffel? Atau.. yang lain? Kejutan itu membuat kepalaku menjadi pusing.

Malam hari sebelum besok Ayahku datang, Ibuku membuat banyak sekali makanan, menghiasi rumah, membuat pernak pernik, membungkusi kado. Kemudian aku menghampiri Ibuku yang sedang sibuk, dan kemudian aku bertanya,
" Ibu, Ibu menyiapkan semua itu untuk apa? Memangnya Ayah mampu memakan makanan sebanyak itu? Untuk apa Ibu menghiasi rumah dengan pernak-pernik yang berlebihan? Lalu, kado-kado sebanyak ini untuk apa? Mengapa warnanya merah muda?" tanyaku heran.
Lalu, Ibuku membelai kepalaku dengan lembut, dan menjawabnya,
" Sayang, memang, Ayahmu tidak akan mampu memakan makanan sebanyak ini. Kamu' kan sudah tahu, Ayah akan memberikan kejutan untukmu. Jadi Ibu tidak akan menjawabnya, Ibu tidak tega, jika harus membongkar rahasia kejutan Ayah untukmu, dan membatalkan kejutan dari Ayah untukmu." jawab Ibuku.
Jawaban dari Ibu hanya membuatku tambah bingung, pusing, dan penasaran saja. Akhirnya akupun berkata seperti ini,
" Oh, Ibu mau menyambut kedatangan Ayah, dan merayakan ulang tahun saudara kita, ya?" tebakku.
Mungkin, karena aku banyak bertanya, Ibuku pun merasa kesal, Ia membawaku ke kamar..Saat di kamar..
" Sayang, kamu ini dari tadi bertanya terus! Pekerjaan Ibu jadi terhambat! Lebih baik kamu tidur saja, sudah malam!Selamat malam, sayang." gerutu Ibuku. Kemudian Ibuku mencium keningku, dan keluar kamar.
 Ya, sebaiknya aku tidur saja, daripada membuat Ibuku tambah marah. Daripada pusing memikirkan kejutan dari Ayah. Sekarang, aku akan menenangkan pikiranku dulu. Aku menarik selimutku, dan memeluk gulingku.

Keesokan harinya, di pagi yang cerah, aku sudah mandi, berdandan yang cantik. Aku tidak sabar menunggu kedatangan Ayahku tercinta. Sebuah mobil datang, sepertinya itu Ayahku, aku berlarian kecil menghampiri mobil hitam mengkilap itu. Tetapi, yang turun adalah seorang gadis seumuran denganku, Ia begitu mirip denganku, tapi gadis ini cantik sekali, kulitnya berwarna puith, rambutnya lebih pirang, tepanya berwarna kemasemasan. Ia tersenyum padaku, matanya berkaca-kaca, kemudian ia memelukku erat. Sebenarnya, gadis ini siapa? Mengapa ia ingin menangis saat bertemu denganku.

Tiba-tiba, Ayahku turun dari mobil tersebut. Akupun menghampiri Ayahku, kemudian memeluknya. Aku berbisik pada Ayahku "Ayah, gadis itu siapa? Mengapa dia mirip denganku?" Ayah hanya tersenyum, lalu meninggalkanku. Perempuan itu menghampiriku, kemudian ia berkata sesuatu padaku
 " Hello Felix, I miss you so much. Finally, we get to meet." kata gadis itu dengan berbahasa Inggris.
"Maaf, aku gak ngerti." kataku.
"Helo Felix, aku sangat merindukanmu. Akhirnya, kita bisa bertemu." jawab gadis itu.
Aku hanya mengerutkan keningku, menatap wajah gadis asing itu. Tiba-tiba, gadis itu  terlihat kesal, dan dia beteriak padaku.
" Kamu gimana, sih?! Bukannya senang lihat saudara kembarmu datang jauh-jauh dari Perancis, tapi kamu cuman bengong gitu aja!! Gak seneng, ya? Lihat aku pulang ke sini!" bentaknya.
Aku sangat kaget mendengarnya, tidak mungkin aku memiliki saudara kembar yang jauh beda denganku, walaupun memiliki muka yangsama, tetapi dia lebih, lebih dariku.
"Hah? Saudara kembar?? Memangnya.. aku punya saudara kembar? Aku belum pernah memiliki saudara kandung! Aku tidak pernah melihatmu! Sebenarnya, kamu siapa?" tanyaku gugup.
"Iya, aku saudara kembarmu. Namaku Felixa, dan kamu Felix. Memang, kita belum pernah bertemu, hanya saat kita masih bayi. Aku dan kamu sama-sama lahir di sini. Hanya saja, Nenek memaksa untuk membawaku ke Perancis, untuk Nenek besarkan. Karena Nenek sudah meninggal 1 tahun yang lalu, aku dibawa pulang kesini. Untuk hidup bersama-sama denganmu, bersama keluarga kita. Sebenarnya, kedua orang tua kita berasal dari ras yang berbeda. Maka dari itu, warna kulit, rambut, dan mata kita berbeda. Hanya wajah kita saja yang sama." kata gadis itu, yang ternyata saudara kembarku, panjang lebar.
" Jadi, kamu, saudara kembarku, yang selama 14 tahun terpisah? Benarkah? Kamu Felixia? Aku sayaaaang samaa kamuuu..aku menunggu nunggu kapan aku bia memiliki saudara kandung, karena aku sangat kesepian di sini .." akupun menangis, kemudain memeluknya erat.
Kami berdua menangis, ya menangis haru, karena bisa bertemu dengan saudara kandung sendiri, setelah 14 tahun terpisah. Akhirnya, kami hidup bersama dalam satu atap, melewatkan banyak waktu bersama, kami saling bercerita tentang negaraku dan negara tempat dia dibesarkan, Perancis. Katanya disana adalah negara mode. Wah, pasti keren sekali! Tapi, tetap saja, Indonesia sebagainegara asal kami berdua.

Besok, adalah hari pertama dia belajar di sekolahku. Teman-teman menyambut Felixa dengan sangat senang hati. Tapi, kedatangan Felixa membuat teman-temanku berubah 180 derajat. Mereka semua menjadi menjauhiku, mereka hanya ingin berteman dengan saudara kembarku sendiri! Ya, FELIXA.. Aku, sih.. tidak menyalahinya, bukan gara gara dia, mereka semua menjauhinya. Tapi, hanya gara-gara hati kecil teman-temanku yang sukanya memilih-milih orang yang cantik lah, pintar lah, putih lah, entalaah..!! Uuuh, aku keseel bangeeet!!

Sepulang sekolah, Felixa mengajakku pergi ke toko buku sebentar. Akupun menemaninya, saat di toko buku, kami bertemu dengan teman-teman sekelas. Kemudian, mereka hanya senyum pada Felixia, dan aku? Mereka tidak senyum padaku! Huh, kenapa lagi ini ?! Felixia pun mengajakku untuk pulang, karena dia tahu, mereka itu (teman sekelas) tidak mau berteman dengan Felix lagi karena dirinya.

Keesokan harinya, aku datang terlambat. Sedangkan Felixa sudah diantar Ibu naik motor pagi-pagi tadi, aneh rasanya, deh. Tumben, dia pergi gak bareng sama aku. Akupun masuk ke kelas, syukurlah, guru belum datang. Tiba-tiba Felixia menyuruhku maju kedepan kelas. Aku sangat kaget, Ia maenyuruhku dengan paksa, ditambah lagi teman-teman sekelas juga ikut menyuruhku maju ke depan kelas dengan marah-marah dan paksaan. Aku takut, apa yang akan mereka lakukan padaku? Apaka aku akaan..  dibully ?

Akhirnya aku maju kedepan kelas, seketika teman-teman sekelasku duduk di bangkunya masing-masing. Aku mulai bingung dan curiga, apa yang akan mereka lakukan? Mengapa mereka semua duduk dengan rapi? Flexia pun berteriak,
" Teman-teman!"
Tiba-tiba semua teman-temanku berdiri, mukanya kelihatan sangat serius, akupun menjadi berkeringat dingin. Semuanya menatapku! Ya ampuun, apa yang akan terjadi padaku?
"Flexi, maafkan kami semua.. Kami telah menjauhimu, memarahimu, hanya karena kami ingin berteman lebih dekat denga Flexia, saudara kembarmu. Maafkan kami Flexi, kami janji, tidak akan mengulangi kesalahn kami ini." Tiba-tiba teman-temanku sekelas berbicara seperti ini dengan kompak. 
Lalu, Flexia memberikanku sebuah cupcake kecil padaku. Teman-teman sekelas kemudian tersenyum lebar padaku, mereka menyanyikan sebuah lagu kesukaanku. Aku jadi tambah bingung. Mereka tidak memberi tahu apa-apa padaku. Pulang sekolah, semua teman sekelas menunggu di taman sekolah. Akhirnya mereka menceritakan bahwa, mereka ingin meminta maaf padaku, karen telah menjauhiku, ya ampun, ternyata mereka telah sadar. Akhirnya aku memaafi mereka semua, dan mereka pulang kerumahnya masing-masing.

Kini aku lega, mereka telah berteman lagi padaku. Teryata, yang menyuruh mereka meminta maaf yaitu Flexia. Dia tidak tega, melihatku dimusuhi teman sekelas. Keesokan harinya, kami bermain bersama lagi, mereka sudah tidak lagi memusuhiku . Terima kasih Flexia, telah melakukan semua ini! Kamu memang saudara kembarkku yang sangat kucintai!

**  TAMAT  **

Tidak ada komentar:

Posting Komentar