Minggu, 12 Oktober 2014

Ogty?

Dia sekarang udah punya pacar.
Oh gitu ya?
Iya.
Terus gimana?
Gak papa, kok..
Bohong!
Emang,
Mau ke siapa?
Gak ada..
Move off?
Iya.
Mau sampai kapan?
Gatau,
Sampai ketemu yang pas ya?
Iya.
Semoga ketemu, ya..
Amiin..
Amiin..

Maafin Aku, De..

Siang itu..
"Kakak udah gila?"
"Kamu kali yang gila, De! Gak sopan banget.."
"Emangnya aku salah apa, Kak?!"
"Banyak, De!! Wuaaah... banyak banget malahan!! Udah, ah.. berisik! Jijik banget ngomong sama ade kelas gatau diri!" bentakku.
"Ya udah,"
Siang itu aku emang lagi kesel banget sama adik kelasku, namanya Assyln. Bukan apa-apa, sih.. Cuman aku lagi pingin banget marahin Si Assyln itu, padahal dia gak punya salah apa-apa ke aku, bodo. Aku lagi pingin cari sensasi aja, De. Udah tau gak punya salah malah dimarah-marahin, tambah bodo -_-
Jadi gak mood makan di kantin, nih, pingin ke kelas aja. Aku langsung ke kelas dengan perasaan bete. Sesampainya di kelas,
"Hay,Lizza,why?Your face looks annoyed." sapa teman sekelasku.
"Hmm, nothing, Key." jawabku malas.
"Ooh, come on, cerita sajalah..." bujuk Key.
"Do you want to know all?"
"Ya, udah cepetan, ah!" jawab Key tidak sabar.
Aku pun segera menceritakan semua kejadian di kantin tadi, soal aku marah pada Assyln. Key terdiam setelah mendengar ceritaku. Ia seperti menahan nahan sesuatu. Sedetik kemudian...
"Ya ampun, Lizza! Kamu jahat banget, marahin adik kelas tanpa sebab apapun!" teriak Key padaku.
"Haha, sudah kuduga kamu akan bicara seperti itu. Mungkin, aku ingin cari sensasi."
"Lebih baik kamu minta maaf, deh.." emosinya mereda.
"Hmm, aku males, malu lagi.. Gak usah, deh." tolakku.
"Hey, hey, itu sudah jadi tanggung jawabmu sendiri. Kamu yang mulai duluan, kok. Minta maaf, dong! Gimana, sih?" suaranya meninggi.
" Ya udah, deh. Aku mau minta maaf, tapi temenin!"
"Engng, ya udah aku temenin. Ohya bawakan dia permen juga, suapa hatinya ikhlas maafin kamu." usul Key sambil menyodorkan 3 buah permen yang dibungkus kertas berwarna emas, kemudian aku menerimanya.
Pulang sekolah pun tiba, aku dan Key menunggu Assyln di dekat gerbang sekolah. Tapi, Assyln tidak datang datang. Kemana dia? Akhirnya kami menuju ke kelasnya di lantai 2 sekolah kami. Perasaanku tidak enak. Apakah ada sesuatu yang terjadi padanya? Aku merasa sangat bersalah. Kini kami berdua telah sampai di depan kelasnya. Aku memberanikan diri untuk bertanya kepada salah seorang temanya yang sepertinya sedang piket.
"Mmh, maaf, De. Boleh nanya?" sapaku memberanikan diri.
"Eh, iya, Kak. Ada apa?" jawabnya ramah sambil tersenyum.
"Assyln ada?" tanyaku.
"Wah, maaf, Kak. Assyln tadi izin pulang lebih awal karena badannya panas."
Deg. Aku kaget mendengarnya. Apakah dia sakit karena aku memarahinya terlalu keras. Aku sangat menyesal. Apa yang kuperbuat padanya??
 "Boleh minta alamat rumahnya?" pintaku.
"Boleh," ia segera menuliskan alamatnya, kemudian menyodorkan secarik kertas tersebut. "Ini, Kak. Dekat dari sekolah, kok."
"Terima kasih, De."
"Sama-sama, Kak."
Aku dan Key segera pergi dari sekolah,lalu membeli buah-buahan dulu, kemudian mencari alamat rumah tersebut. Selama beberapa menit, kami muter-muter gak jelas. Katanya rumahnya warna abu-abu, beberapa menit kemudian akhirnya kami menemukan rumah tersebut dan alamatnya sama. Deg, aku harus berani. Pagar rumahnya kubuka dengan pelan-pelan, dan ku ketuk pintu rumahnya.
"Permisi, selamat siang." teriakku. Tidak ada jawaban, ku coba sekali lagi. "Selamat siang."
Kreek.. pintu rumah terbuka. Seorang perempuan berambut coklat sebahu menyambut kehadiranku dengan senyumnya.
"Permisi, Assylnnya ada?" tanyaku ramah.
"Ada. Tapi, maaf anda siapa?" tanyanya.
"Saya kakak kelasnya, temannya juga. sih.."
"Oh, ayo silakan masuk. Assyln ada di kamarnya."
Aku segera diantarkan perempuan itu ke kamranya. Jantungku makin berdebar. Saat pintu dibuka, kulihat seorang perempuan cantik berambut panjang sedang bergelung di selimutnya, itu Assyln. Perempuan yang mengantarkanku bilang ia sedang sakit. Aku segera menghampiri Assyln.
"Assyln..De.." sapaku pelan.
Assylan segera membalikan badannya dan terkejut melihatku  datang kemari. Mukannya kelihatan tambah pucat setelah melihatku.
"Ini, De, aku bawakan buah-buahan untukmu, juga ada permen untukmu." kataku sembari menyodorkan kerajang buah-buahan padanya. "Maafkan aku ya, De, aku sudah memarahimu, padahal kamu gak punya salah apa-apa ke aku. Aku.. mungkin lagi emosian aja, maaf ya, De. Gara-gara Kakak kamu jadi sakit." kataku bersalah.
 Assyln hanya tersenyum, kemudian berkata,
"Hahaha, gak apa-apa kok, Kak. Aku tahu Kakak lagi emosian. Lagian aku udah maafiin Kak Lizza. Ah, terima kasih buah-buahan dan permennya, aku suka. Ohya, aku sakit bukan gara-gara Kakak. Sebenernya, dari kemaren aku memang sudah sakit, tapi maksain sekolah." kata Assyln ramah.
"Ah, terima kasih kamu sudah maafin Kakak. Oh, ternyata begitu. Get weel soon, ya.. Banyak istirahat dan makan makanan bergizi,"
"Iya, Kak, makasih. Kakak perhatian banget. Ohya, maafin juga kalau Assyln punya salah ke Kakak."
"Iya, De, Kakak maafin."
"Jadi sekarang kita baikan lagi ya, Kak?"
"Iya, tentu."
"Kakak, bercanda, sih, boleh aja. Asal jangan melampaui batas, ya, Kak."
"Eh? Hahaha, iya, iya, maaf, deh. Hehehe.."
Akhirnya, Kak Lizza dan Assyln berbaikan kembali. Lizza berjanji tidak akan bercanda melampaui batas, dan tidak akan marah-marah tanpa sebab lagi.

~THE END~