Jumat, 15 November 2013

Si Galau Nge-Tren

Sekarang banyak ya remaja yang galau? Apakah kamu termasuk remaja yang galau juga,, kalau aku sih biasa aja..Galau,,yaa..galau..sekarang menjadi tren yaa..si galau tuhh populer juga.. Teman-temanku banyak yang galau juga, lhoo..ada yang galau karena cinta, nilai, seseorang dan lain-lain.

Zaman sekarang tuh,banyak banget yang sedang ber-galau,, hmmm siapa sih sekarang yang belum pernah bergalau. Kayaknya sih perkembangan zaman yah yang bikin kita galau??

Jujur aja, aku sih pasti pernah galau juga. soalnya teman-teman galau sihh!!Aku kan jadi ketularan galau.. hehehe jadi ceritanya aku curhat ke kalian,niehh ??

Hmmm, kita mulai dengan kata "Galau"..Galau itu bisa diartikan dimana perasaan kita sedang sedih, bingung, bimbang, atau mungkin juga berasa takut. Yang jelas perasaannya sedang kacau balau ga menentu campur aduk akibat dari problem yang dialami. Entah itu gara-gara asmara, kerjaan, keluarga, kuliah atau berselisih dengan teman.Ternyata yang bikin kita bergalau bukan cuma kecengan atau pacar, tetapi teman, pelajaran juga bisa bikin kita galau.

Biasanya aku suka diajak curhat tentang si ini, si anu...Memang sedih juga,lhoo..Tapi kita'kan harus selalu positive thingking ! Supaya kegalauan tersebut gak diem terus di hati kita nanti kita bakal sedih terus, ayo smengat dong! Aku yakin kalo semangat pasti punya solusinya, iya gak?Jangan pikirin terus galau itu! "Galau aja gak mikirin kita, ngapain kita mikirin galau..ya,gak?"...

Tapi inget! Jangan gara-gara galau, kamu jadi males makan, males minum, males ngerjain pr, males berdiri pinginnya cuman di atas kasur, cuman pingin nangis aja, nanti kan bisa sakit? Udah,dehh..tinggalin galau mu itu dan pikirkan masa depan yang masih panjang, jalani hidupmu dengan penuh semngat, jangan pikirin galau, yahh..Thanks Youu~

Rabu, 13 November 2013

Hai,selamat datang di Blog-ku..Di sini berisi tentang cerita-cerita yang unik, seru, mengharukan, tentang cinta, persahabatan, dan lain-lain. Semoga kalian menikmati-nya ya..Terima kasih ^^

Kisah Penjual Pisang Keliling Nan Jujur



Seperti biasanya malam itu (sekitar pkl 21.30 wib) saya dan dua orang tetangga kompleksku ngobrol di gardu siskamling samping rumahku. Sedang asyik kami ngobrol-ngobrol, dari soal politik, olah raga sampe masalah warga kompleks dibahas dengan lugas layaknya talk show di TV-TV yang sedang marak, lewatlah seorang tukang pisang dengan ditemani seorang bocah seumuran anak SD, menjajakan dagangannya.
“Pisang… pisang..,” begitu teriaknya. Terhenti sejenak obrolan kami mengamati si tukang pisang tersebut, muncul beberapa pertanyaan diantara kami, “Mengapa sudah malam begini masih ada saja tukang pisang keliling?” celetuk salah satu tetangga sebut saja Dedi. “Kenapa bawa anak kecil segala?” tandas Eri tetangga ku dengan kritisnya. “Ada apa keranjang pisangnya dipegangi anaknya itu?” tanyaku dengan penuh selidik.
Akhirnya kami mencoba menegurnya, “Wah, malam-malam masih ada pisang ya mang?” tanyaku.
“Iya pak, ada pisang raja dan ambon, masih seger dan masak dipohon pak” sahut si tukang pisang. “Ini anak mamang?” tanya Dedi. “Iya pak, anak saya yang ke dua,” sahutnya.
“Kok malam-malam ikut jualan apa tidak belajar?” tanya Eri penasaran. “Sudah belajar pak tadi sore sebelum nganter bapak jualan” jawab anak itu. “Kok Bapak malam-malam masih jualan bawa anak lagi, apa gak kasihan anak Bapak kan besok pagi-pagi harus ke sekolah” tanya ku.
“Bapak saya buta, jadi terpaksa harus diantar kalau mau jualan keliling pak” sahut anak itu menjelaskan. Kami begitu kaget mendengar penjelasan seorang bocah ingusan yang begitu berbakti kepada orang tuanya yang sedang berusaha itu.
Bagaimana tidak, seorang penjual pisang sampai malam begitu dia keliling kompleks ditemani anaknya yang sesuai SD itu. “Bapak kalau pagi mangkal di dekat pasar, selepas Ashar beliau keliling komplek pak, untuk menjual sisa dagangannya,” timpal anak itu. Itu semua dilakukan demi menghidupi dua anak dan sang istri. Dengan rasa simpati kami saling bisik-bisik untuk membelinya.
Karena begitu terharu saya dan dua orang tetanggaku membeli pisang dengan melebihkan pembayaran dari harga yang ditawarkanya. Tapi apa yang kami lakukan rupanya mendapat tanggapan berbeda dari si tukang pisang “Ini pak, kembaliannya seribu rupiah,” tukas si tukang pisang. “Sudah buat bapak dan anak bapak saja,” jawab kami serempak tanpa sadar.
“Maaf pak saya jualan bukan pengemis,” sahutnya. Dia mengembalikan semua kelebihan uang kami yang sebenarnya sengaja kami berikan. Kemudian si tukang pisang permisi dan pergi bersama anaknya menjajakan dagangannya sembari menuju pulang ke kampungnya.
Terbetik dalam sanubari kami masing-masing, masih ada orang jujur dan mulia di dunia ini. Uang lebih seribu rupiah pun tidak dia terima (karena bukan haknya) demi harga diri dan prinsip yang begitu luhur.
“Saya jualan bukan pengemis pak,” dinyatakan oleh seorang tukang pisang yang buta. Ada dua pelajaran berharga yang kita bisa petik dari kisah tersebut:
Pertama seandainya mental itu (tidak rakus pada harta yang bukan haknya) ada di sanubari semua penjabat kita tentu triliunan rupiah uang negara (rakyat) yang bisa diselamatkan di negeri ini untuk mensejahtera kan umat, tidak terkecuali kita juga tentunya.
Kedua betapa optimisnya si tukang pisang, dengan kondisi yang buta dia keliling kompleks sampai larut malam mencari rejeki, sementara kita orang yang lebih beruntung (mata normal) mungkin sudah santai nonton TV atau beranjak tidur.
Semoga kita bisa lebih mensyukuri nikmat dan anugerah Tuhan kepada kita semua.